Monday, 15 February 2016

Nikmatnya Hidup di Era Digital

RATUSAN MAJALAH GRATIS DI HANDPHONE ANDA!



http://majalah.id

Feb 15, 2016 - Santoso Suratso/Mahoni.com

Bayangkan mundur 5 tahun yang lalu, apa bisa mendapatkan majalah digital gratis? Saya rasa tidak mudah, hampir semua majalah dijual di toko buku dengan harga yang cukup mahal. Saya ingat bukan hanya mahal, kita harus pergi ke mal, cari toko buku gramedia dan baru bisa menemukan majalah yang saya ingini, kadang stok nya habis... wah repot.

Hanya dalam 5 tahun dunia cetak majalah berubah total, dari cetak kertas menjadi cetak digital, atau ke layar handphone dan tablet. Juga tidak ada lagi stok habis karena cetak digital tidak terbatas bisa 1000 atau 1,000,000 selalu siap setiap saat.
Ini evolusi apa revolusi? saya tidak tahu, yang pasti sekarang ini langanan atau consumer sangat di untungkan.


Sekitar 20 tahun yang lalu juga sama, tepatnya 1996, di Indonesia semua cetak foto harus di kertas, bahkan dicuci dulu baru cetak, makanya namanya cuci cetak foto. Ribuan fuji image plaza dan kodak express tersebar di Indonesia dengan pelayanan cuci cetak foto. Apa yang terjadi hanya dalam 10 tahun industri ini tercuci bersih dengan teknologi digital. Cetak kertas telah berubah menjadi cetak digital ke layar monitor, aplikasi seperti facebook, instagram, path, menjadi alternative dan 99% pelayanan cuci cetak bangkrut.
Apa yang kita bisa pelajari dari ini, apa badai yang sama sedang terjadi di dunia percetakan majalah dan buku? Berapa lama lagi sebelum industri ini akan gulung tikar sama seperti cuci cetak foto? 5 tahun? 8 tahun?

Pertanyaan yang lebih menarik adalah, kemana arah dari industri digital print ini, karena kita sadari cuci tetak foto hilang bukan berarti industri foto hilang. Malah sebaliknya konsumen lebih banyak menambil foto, namun formatnya sekaran digital tidak lagi analog. Ada survey yang mempelajari menyimpulkan bahkan digital foto meningkat 400% sampai 600% lebih banyak dari jumlah analog foto sebelumnya.

Apa mungkin juga dalam majalah digital akan sama? Karena konsumen sekarang bisa mendapatkan banyak majalah digital berkualitas yang gratis! Sebagai contoh aplikasi ?Majalah Indonesia? dapat di download gratis dari http://majalah.id/ dalam 2 tahun terakhir data download sudah melebihi 300% banyaknya, jadi ini berkembang luar biasa pesat bersamaan dengan cepatnya adopsi handphone dan gadget digital di konsumen.


Apa pendapat anda? Silakan taruh komentar anda dibawah ini atau email ke info@mahoni.com 

Tuesday, 2 February 2016

Apa Sosial Media Membantu Pendidikan dan Produktivitas Pekerja?

Apa Sosial Media Membantu Pendidikan dan Produktivitas Pekerja?

Feb 2, 2016 / By Santoso S. / Mahoni.com


Untuk negara berkembang seperti Indonesia, sosial media meledak besar. Bahkan survey mengatakan bahwa facebook di Indonesia adalah ke 4 penguna terbesar di dunia.

Apa kita layak bangga atas itu? Apa artinya itu hebat untuk Indonesia dan masyarakat? Apa sebaliknya itu bagus untuk facebook yang mendapat keuntungan dari iklan, tapi menghabiskan waktu produktif masyarakat Indonesia.

Teman saya memiliki ratusan karyawan di kantor, pagi hari ini waktu saya berkunjung untuk rapat kerja, dia sempat berkomentar dengan serius bahwa sosial media seperti facebook, youtube, dll menjadi masalah di kantornya karena dia menebak bahwa sekitar 20% waktu kantor dihabiskan secara tidak produktif untuk browsing dan gosip di sosmed tersebut. Dia berkata sudah usaha berat di masa ekonomi sekarang ini, karyawan bukan makin rajin melainkan facebookan terus ke teman-teman bahkan yang mereka tidak kenal.

Apa teman saya salah berkata demikian? Saya rasa tidak, karena waktu kita dikantor dibayar oleh perusahaan, dan itu tidak adil bila kita habiskan hanya untuk hal yang tidak memberi kemajuan untuk usaha dimana kita bekerja bahkan mengunakan fasilitas kantor, wifi kantor, dll.

Sedikit kita sadari bahwa makin banyak waktu yang kita habiskan ber sosial media, maka makin sedikit waktu yang kita miliki untuk bekerja produktif.

Bagaimana topik ini di dunia pendidikan? Sama! Beberapa survey antara teman-teman dan keluarga mengeluhkan hal yang sama, bahkan beberapa guru merasa sangat tergangu dimana murid-murid langsung browsing sosmed pada saat istirahat dibandingkan dengan belajar dan membaca buku sekolah.

Fenomena ini menjadi masalah sosial, dimana terlihat ada kecanduan yang kuat terhadap sosial media seperti facebook, youtube dan lainnya. Boleh dikatakan produktivitas kerja, pelajaran, dan urusan lain yang penting dijadikan nomor dua setelah facebook.

Bila ini berlajut maka apa mungkin akan terjadi penurunan kualitas rakyat Indonesia secara umum, kita menjadi masa yang jago gosip, komentar, dan memberi pendapat kepada orang lain dan kurang evaluasi dan melihat diri sendiri.

Keterbukaan pemerintahan Indonesia bagus, tapi juga bukan tidak memiliki aspek negativenya. Untuk negara berkembang, kita mungkin belum siap untuk terbuka penuh dimana liberalisasi menjadikan kita kurang disiplin bahkan kecanduan untuk leisure (santai) via sosmed dibandingkan dengan bekerja keras, belajar, meningkatkan produktivitas dan fokus serta etis timur yang menghargai untuk lebih lemah lembut.

Apa pendapat anda atas topik ini? Apa betul teman anda menghabiskan waktu kantor di sosmed? Atau sekolah? Apa benar sosmed membuat kecanduan?